Taktik Pius Mendekati Prabowo Subianto  

TEMPO.CO, Jakarta - Pius Lustrilanang, bekas aktivis pro-demokrasi, yang pernah diculik Tim Mawar Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat, yang saat itu berhubungan dengan Prabowo Subianto. Bagaimana kemudian dia  bisa menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Gerindra yang didirikan Prabowo?.

Kepada Wayan Agus Purnomo dari Tempo, Pius menceritakan awal kedekatannya dengan Prabowo. Berikut ini penjelasan lengkap Pius.

Bagaimana Anda bisa masuk Gerindra?

Ini adalah pertanyaan yang sering muncul dari kawan-kawan Facebook yang baru saya add. Biasanya mereka segera saya minta untuk melihat galeri foto perjalanan politik saya. Jika setelah melihat mereka masih bertanya juga, saya akan menjawab dengan pertanyaan juga. Kenapa rupanya? Emang ada yang salah dengan saya masuk Gerindra? »Aneh", kata mereka. Mengapa korban penculikan kok memilih bergabung dengan penculiknya.

Adalah sesuatu yang aneh memang jika penculikan itu terjadi seminggu, atau sebulan yang lalu. Tapi buat saya, membandingkan pilihan saya sekarang dengan kejadian 10 tahun yang lalu, justru adalah sebuah keanehan. Where have you been? But, okelah, mari  flashback ke kejadian 10 tahun yang lalu. Ini kisah saya.

Bagian Pertama:

Penculikan dan Kesaksian

Saya diculik oleh tim mawar bentukan kopassus pada tanggal 4 Februari dan baru dibebaskan pada 3 April 1998. Saya diculik karena saya adalah aktivis yang konsisten mendorong isu anti Soeharto sejak 1993. Delapan minggu saya mendekam dalam sel bersama sejumlah aktivis, antara lain: Desmon J. Mahesa, Haryanto Taslam, Faisol Riza, dan Raharjo Waluyo Jati. Mereka ini semua dibebaskan dalam keadaan hidup. Di tempat penyekapan itu, saya juga sempat berkomunikasi dengan Herman Hendrawan, Yani Afri, dan Soni. Ketiga orang ini sampai saat ini belum diketemukan. Dari mulut Yani Afri dan Soni, saya mendapat informasi bahwa Dedi Hamdun juga disekap di tempat tersebut.

Ketika dibebaskan saya diharuskan untuk mengarang tentang apa yang terjadi selama 8 minggu saat saya hilang. Saya tidak boleh mengatakan bahwa saya diculik. Jadi ketika ada yang bertanya saya memilih menjawab dengan: »Saya sengaja menghilang untuk nyepi, mencari ketenangan karena banyak persoalan. Para penculik saya mengancam akan membunuh saya jika saya berani menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Selain itu mereka juga mengancam akan membunuh keluarga yang saya cintai: ibu dan saudara-saudara saya.

Ketika saya dibebaskan pada 3 April 1998, saya langsung dikirim ke cengkareng dan dibekali tiket pesawat untuk langsung pulang ke Palembang. Sesampai di Palembang saya segera mengontak Santoso, rekan kerja saya di Institut Studi Arus Informasi (ISAI). Saya memintanya untuk mengecek keberadaan Yani Afri dan Soni. Mereka ini »dibebaskan" sebelum saya. Selang dua hari kemudian, saya mendapat kabar bahwa kedua orang tersebut belum kembali ke rumah orang tuanya. Saya langsung berkesimpulan bahwa mereka sudah mati. Saya lalu teriingat pada perkataan salah seorang penculik: »Ada yang keluar (dalam keadaan) hidup dan ada yang keluar (dalam keadaan) mati dari tempat ini".

Pada tanggal 27 April saya memberikan kesaksian di Komnas HAM mengenai penculikan yang terjadi terhadap sejumlah aktivis. Saya sadar akan bahaya yang bakal terjadi. Para penculik pasti tidak akan tinggal diam. Dan mereka pasti akan segera memburu dan membunuh saya. Saya siap jika hal itu terjadi. Saya sudah siap untuk menjadi martir. Tekat saya cuma satu: »Saya ingin semua ini (penculikan) diakhiri". Sadar akan resiko yang saya hadapi, saya meminta rekan dari kedubes AS untuk mengantar saya ke airport setelah memberikan kesaksian.

Setelah memberikan kesaksian, saya diantar oleh dua orang anggota Komnas HAM menuju airport. Saya selanjutnya pergi ke Belanda. Saya pergi dengan hanya berbekal pakaian yang melekat di badan. Tas berisi pakaian tidak sempat saya bawa karena tertinggal di mobil staf kedutaan AS yang sedianya akan mengantar saya.

Selanjutnya tentang Tim Mawar diadili di Mahkamah Militer

Setelah beberapa di Belanda, saya pergi ke AS memenuhi undangan Kongres. Pada 6 Mei, di depan Kongres saya memberikan kesaksian sambil meminta agar Kongres menekan pemerintah AS untuk segera menghentikan bantuan militer untuk Indonesia. Esok harinya saya bertemu dengan National Security Council dan meminta mereka untuk mendesak pemerintah AS agar menarik dukungan atas Soeharto. Kesesokan harinya saya mendapat kabar bahwa bantuan militer untuk Indonesia telah dihentikan.

Dari Washington saya berangkat menuju Newyork untuk menemui Komisi HAM PBB. Ketika di berada di Newyork, saya medapat kabar telah terjadi penembakan terhadap sejumlah mahasiswa Trisakti. Kerusuhan besar pun terjadi yang berujung kepada lengsernya Soeharto. Apa yang saya perjuangkan sejak menjadi aktivis mahasiswa kini telah terwujud. Dengan lengsernya Soeharto, jalan menuju pemilu yang benar-benar demokratis telah tersedia. Pada titik ini perjuangan ekstraparlementer saya berakhir.

Pertengahan Juni 1998, saya kembali ke Tanah Air. Sekembali di tanah air saya terlibat bersama kawan ISAI menggagas pembentukan Partai Amanat Nasional. Ketika PAN dideklarasikan saya diangkat menjadi anggota Departemen Pemuda DPP PAN. Sejak awal saya sudah setengah hati bergabung dengan PAN. Saya lebih suka bergabung dengan PDI Mega. Ketika ada oposisi terhadap kehadiran saya di PAN oleh A.M. Fatwa, saya segera memutuskan hengkang dari PAN dan bergabung ke PDI Mega pada bulan September 1998.

Pada April 1999 Tim Mawar diadili oleh Mahkamah Militer. Saya menolak memberikan kesaksian karena saya yakin yang harus diseret ke pengadilan untuk dimintai pertanggungjawaban adalah Soeharto sebagai Panglima Tertinggi ABRI. Saya menganggap Tim Mawar hanyalah eksekutor di lapangan. Dari data yang terkumpul dapat disimpulkan bahwa penculikan didukung dan dikoordinasikan oleh berbagai instansi dalam tubuh ABRI: Kepolisian, Komando Teritorial (Mabes, Kodam, Korem, Kodim, hingga Koramil), serta aparat intelejen (Bakin, BIA). Jadi penculikan adalah produk dari kebijakan politik rezim Soeharto.

Prabowo yang saat itu menjadi Panglima Kostrad menyatakan mengambilalih semua tanggung jawab. Mungkin sepanjang sejarah TNI, hanya Prabowo, seorang jenderal bintang tiga, yang berani memikul tanggung jawab komando. Jenderal lain biasanya memilih lepas tanggung jawab dan membebankan kesalahan pada bawahan atas nama kesalahan prosedur. Lewat keputusan Dewan Kehormatan Perwira, Prabowo pun dibebastugaskan. Tidak lama kemudian Prabowo memilih untuk mengasingkan diri ke Yordania.

Setelah Tim Mawar menjalani hukuman atas penculikan sembilan orang aktivis, Bambang Kristiono, sang komandan, mengambil inisiatif untuk bertemu dengan saya. Dalam pertemuan tersebut, Bambang menyampaikan permintaan maafnya. »Saya melakukan hal tersebut karena tugas," katanya. Dalam kesempatan tersebut Bambang Kristiono juga menyatakan bahwa dia dan timnya tidak membunuh aktivis yang belum kembali. Saya ingat kata-katanya: »Pius, lihat mata saya. Saya tidak berbohong. Demi Allah saya tidak membunuh mereka". Jika bukan Tim Mawar, lalu siapa? Terhadap pertanyaan ini sampai sekarang tidak ada jawabannya.

Setelah pertemuan itu, kami kemudian bertemu kembali. Kali ini masing-masing membawa istri. Dalam kesempatan itu, BK kembali menyatakan permohonan maafnya atas nama keluarga. Saya dan istri menerima permohonan maafnya. Kami semua adalah korban; korban dari sebuah sistem yang otoriter.

Bagian kedua:

Perjuangan intraparlementer lewat partai

Dalam pemilu 1999, saya dicalonkan oleh PDIP sebagai Caleg DPR RI no 2 dari Kota Bogor. Saat itu saya belum berambisi jadi anggota DPR. Yang terpenting bagi saya adalah menjamin agar kekuatan pro demokarsi tampil sebagai pemenang dan membentuk pemerintahan. Pemilu 1999 tidak menghasilkan pemenang. Tidak ada satu pun dari 48 partai yang mampu mencapai mayoritas suara. PDIP adalah partai dengan perolehan suara tertinggi. Dalam Negara yang menganut sistem parlementer, partai yang memperoleh suara terbanyak berhak mendudukkan pimpinannya sebagai kepala pemerintahan.

Politik dagang sapi dan tekanan ekstraparlementer pun mewarnai Sidang Umum MPR 1999. Di kubu anti reformasi terdapat laskar-laskar bentukan militer, seperti Pam Swakarsa. Sadar bahwa demokrasi berada dalam ancaman, saya pun segera membentuk laskar di bawah payung PDIP. Laskar ini saya beri nama Brigade Siaga Satu (Barisan Penjaga Demokrasi, Siap Antar Mega Menjadi RI Satu). Brigass, laskar ini biasa disebut, memang dirancang untuk memberi tekanan ekstraparlementer pembanding bagi tekanan-tekanan ekstraparlementer yang berasal dari kubu antireformasi.

SU MPR 1999 akhirnya memutuskan Gus Dur dan Megawati sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden. Brigass tetap dilanjutkan dan dibangun sebagai Ormas. Banyak pihak yang kemudian melancarkan isu bahwa Brigass dibiayai oleh Prabowo dan dilatih oleh Tim Mawar. Sebuah isu yang berlebihan dan menyesatkan. Brigass dibangun murni dari sumbangan kawan-kawan PDIP. Sebagai bagian dari kekuasaan, tentu tidak sulit menggalang dana untuk mengelola Ormas. Kecaman juga datang dari kawan-kawan sesama aktivis. Mereka mengatakan,"Pius yang dulu anti militer kini membangun kekuatan paramiliter. Mereka lupa bahwa demokrasi membolehkan penggunaan kekerasan (kekuatan militer atau paramiliter) sepanjang untuk melindungi demokrasi.

Dari tahun 1999-2004 saya disibukkan dengan kegiatan membangun Brigass. Di akhir tahun 2003 anggota Brigade-Brigass telah mencapai jumlah hampir 12.000 orang. Brigade-Brigass rutin melakukan perekrutan anggota lewat sekolah gratis persamaan, pendidikan politik, pelatihan beladiri Merpati Putih, Pendidikan Satpam, dan penyaluran kerja. Brigass pun pelan-pelan »menjinakkan diri" ketika era laskar sudah berlalu. Sebagai gantinya, sejak tahun 2001, Brigass mendirikan PT Brigass Trilanang Secutity. Sampai saat ini PT Brigass telah berhasil meyalurkan kerja ribuan anggotanya.

Selanjutnya tentang kisruh di PDIP

Memiliki Ormas dengan anggota cukup banyak ternyata bukan jaminan untuk mendapatkan posisi empuk di PDIP. Saya merasa kadang-kadang bahkan dianggap sebagai ancaman oleh kawan-kawan struktural. Mereka yang iri melihat kedekatan saya dengan Taufik Kiemas dan Megawati pun banyak melancarkan fitnahan. Pada pemilu tahun 2004 saya »dibuang" menjadi caleg DPR RI no 9 dari kota dan kabupaten Bogor. Meskipun »dibuang", saya tetap loyal kepada PDIP dan tetap berkampanye untuk memenangkan pemilu. Meskipun nomor buntut, saya terpilih menjadi caleg populer dari dapil saya. Dalam Pilpres pun saya tetap membela mati-matian panji PDIP.

Baru pada saat kongres PDIP Januari 2005 di Bali saya beserta kawan-kawan PDIP lain bersuara kritis. Gagal merebut kepemimpinan PDIP, saya bersama Roy B.B. Janis, Laksamana Soekardi, Arifin Panigoro, dll, berinisiatif membangun Gerakan Pembaruan PDIP. Megawati menjawab gerakan ini dengan melakukan pemecatan terhadap 12 tokoh gerakan pembaruan, termasuk saya.

Setelah pemecetan, saya dan kawan-kawan yang dipecat memproklamirkan berdirinya Partai Demokrasi Pembaruan pada 1 Desember 2005. Sayang keterlibatan saya dalam PDP tidak berlangsung lama. Roy dan Laksamana Sukardi akhirnya memecat kembali rekan seperjuangannya lantaran hanya berbeda pendapat. Saya bersama Arifin Panigoro, Adam Wahab, Yusrizki, Zulvan Lindan, Enggelina Pattiasina, Tari Siwi, dan I Ketut Bagiada adalah pimpinan kolektif yang dipecat pada Agustus 2007.

Setelah melawan sebentar lewat PDP tandingan, akhirnya mereka yang dipecat pun memilih membangun partai baru. Sayangnya kekuatan ini tidak lagi kompak dan terpisah menjadi empat bagian: Zulfan bergabung dengan PNBK, Adam,Yusrizki dan Engelina bikin Partai Pembaruan Bangsa, Tari dan Ketut bikin Partai Kebangsaan Nasional, sementara saya sendiri memilih untuk membangun Partai Persatuan Nasional (PPN)

Selanjutnya tentang pertemuannya dengan Fadli Zon

Sebelum saya memutuskan membangun (PPN), saya sudah mendengar bahwa Prabowo akan membangun partai dari salah seorang kawan aktivis. Saya pun segera mengontak Prabowo dan menceritakan bahwa saya sudah tidak lagi punya kendaraan politik. Prabowo saat itu meminta saya menghubungi Fadli Zon. Prabowo berkata bahwa Fadli Zon berniat membangun partai yang pengurusnya mayoritas anak-anak muda.

Saya pun segera menemui Fadli Zon dan berniat menggabungkan kekuatan PDP yang sempat saya galang dengan partai yang akan didirikannya. Namun tiba-tiba Fadli Zon sakit cukup parah dan komunikasi pun terputus. Didesak oleh kawan-kawan daerah, saya pun akhirnya mendirikan PPN pada tanggal 18 Desember 2007. PPN pun kemudian mendaftarkan diri pada Januari 2008. Ketika PPN sedang bersiap verifikasi, Prabowo meminta saya untuk bergabung ke Gerindra yang mendaftar belakangan. Karena sudah terlanjur punya partai sendiri tentu saja saya tidak dapat memenuhi permintaan Prabowo.

Baru setelah PPN tidak berhasil lolos verifiksi Depkumham, kesempatan untuk bergabung dengan Gerindra kembali terbuka. Sebetulnya saya berniat menggabungkan pengurus daerah yang telah saya bentuk ke dalam Gerindra. Tapi karena alasan keruwetan administratif, saya diminta menunggu setelah Gerindra lolos verifikasi KPU. Baru setelah Gerindra lolos verifikasi KPU, Prabowo meminta saya kembali untuk bergabung.

Bagian Ketiga:

Bergabung ke Gerindra

Sampai hari ini, saya masih saja kesulitan untuk menjawab pertanyaan mengapa sekarang bergabung ke Gerindra. Sulit karena saya harus meringkaskan 10 tahun perjalanan politik saya ke dalam satu kalimat atau satu paragrap pendek. Tidak mudah memang.

Tapi saya kemudian menemukan jawaban sederhana: jodoh politik. Ibarat jodoh, Gerindra datang sendiri tanpa harus dicari. Saya sudah berupaya selama sepuluh tahun mencari partai yang layak sebagai »pasangan hidup". Pertama saya mendekati PAN. Baru kencan beberapa kali langsung merasa tidak cocok. Saya »pacaran" lama dengan PDIP. Ketika tidak ada kecocokan, bubar. Coba lagi »pacaran" dengan PDP. Tidak cocok lagi lalu bubar. Sempat jadi jomblo sebentar dengan membangun PPN. Ternyata saya ga kuat menjomblo. Jadi begitu ada lamaran dari Gerindra, saya menganggapnya sebagai »Pucuk dicinta, ulam tiba".

Gerindra adalah partai politik yang kelima dalam sejarah perjuangan di front parlementer. Sebuah jumlah yang fantastis, demikian salah seorang rekan FB pernah berkomentar dengan nada sinis. Tapi saya paling tidak masih bisa bangga. Saya pindah partai bukan lantaran kecewa tidak dapat nomor urut bagus atau tidak dapat posisi empuk..Saya pernah membuktikan dalam perjalanan politik saya bahwa meskipun diberi nomor buncit saya tetap loyal berjuang membela partai. Saya menggunakan kongres sebagai ajang untuk menyatakan sikap. Saya dipecat dari PDIP karena menginginkan pembaruan.

Saya pun keluar secara terpaksa dari PDP. Partai yang saya harapkan untuk melakukan koreksi terhadap PDIP pun akhirnya terjebak dalam pola tingkah laku yang sama dengan pendahulunya. Saya awalnya hanya menentang pemecatan terhadap I Ketut Bagiada sebagai anggota Pimpinan Kolektif Nasional. Karena saya menentang dengan gigih, saya pun ikut dipecat.

Saya mendirikan PPN pun karena tanggung jawab terhadap mereka yang telah saya pengaruhi untuk ikut menentang pemecatan. Mereka tidak punya kesalahan apapun. Konflik yang terjadi adalah konflik sesama Pimpinan Kolektif Nasional. Ketika mereka tidak lagi punya induk dan rumah, saya bertanggung jawab untuk menyediakan rumah baru bagi mereka.

Selanjutnya tentang kisah Suku Indian

Ketika PPN akhirnya gagal menjadi partai, dan Gerindra belum memberikan solusi, saya sempat menjajaki kerjasama dengan Partai Pelopor dan PPDI. Tapi karena tidak ada chemistry maka hubungan pun tidak berlanjut. Lalu pertanyaannya mengapa dengan Gerindra justru terjadi chemistry? Saya memilih Gerindra karena: (1) saya mengenal banyak pengurus teras Gerindra jauh sebelum Partai didirikan; (2) Gerindra dikendalikan oleh anak-anak muda yang seangkatan dengan saya; (3) Gerindra punya semua syarat yang diperlukan untuk menjadi partai besar.

Ada juga yang menganggap bahwa saya mengidap stocholm Syndrom. Sebuah kasus yang mengacu kepada sikap para korban penculikan yang kemudian berbalik mendukung para penculiknya. Mereka yang menuduhkan hal ini kepada saya telah dengan sengaja mengabaikan fakta bahwa saya pernah bertempur mati-matian melawan para penculik saya. Saya di satu sisi, dan Prabowo beserta Tim Mawar di sisi yang lain, pernah bertempur bersimbah darah membela keyakinan masing-masing.

Suku Indian punya kepercayaan bahwa seorang Indian yang bertarung hidup mati dan bertukar darah dengan seekor beruang, dan masing-masing bertahan hidup, akan memiliki ikatan satu sama lain. Sang Indian akan mewarisi darah dan sifat beruang, dan sebaliknya, beruang pun akan mewarisi darah dan sifat Indian tersbut. Keinginan saya untuk membangun laskar paramiliter yang tangguh mungkin mewarisi darah kopassus. Sebaliknya keinginan Prabowo untuk membangun partai politik yang tangguh, mungkin mewarisi darah aktivis yang ada dalam diri saya.

Selanjutnya tentang nasib Prabowo

Saya dan Prabowo sekarang berdiri pada titik yang sama dalam setting politik yang sama sekali berbeda dengan 10 tahun yang lalu. Saya telah membayar keyakinan saya meskipun dengan resiko mati. Sejarah membuktikan pada akhirnya keyakinan saya yang menang. Prabowo pun telah membayar kesalahannya dengan kehilangan jabatan strategis sebagai Pangkostrad dan cita-citanya untuk memperoleh posisi tertinggi dalam karier militernya.

Saya tetap dengan keyakinan saya, sama seperti dulu. Ketika saya memilih menjadi aktivis dan matang, saya berkeyakinan bahwa Soeharto adalah penghalang bagi demokratisasi. Ketika Soeharto lengser seluruh tatanan ORBA pun runtuh ibarati kartu domino. Kasus penghilangan orang adalah sebuah kejahatan rezim (Soeharto) bukan tindakan koboi para petinggi militer. Jika ada yang salah maka yang salah adalah doktrin. Kesalahan doktrin adalah kesalahan institusi. Kalaupun Prabowo harus dihukum, dia telah menjalani hukuman itu.

Terus terang saya sekarang mengagumi mantan musuh saya. Setelah kalah dan dikorbankan, Prabowo memilih mengasingkan diri keluar negeri. Dia sempat menjadi kambing hitam dari berbagai kerusuhan dan aksi terror. Tapi sejarah membuktikan bahwa dia tidak terlibat. Dia kembali dari pengasingannya dan memulai dari bawah lagi sebagai pengusaha dan memimpin sejumlah Ormas. Saya pikir Prabowo sudah menunjukkan karakter kepemimpinannya yang tak mudah menyerah. Kecintaannya yang begitu besar terhadap tanah air yang memanggilnya untuk kembali berkiprah.

»Sekarang saya mengetahui bahwa ternyata kami memiliki cita-cita yang sama. Dulu kami berada dalam posisi yang berseberangan. Tapi kini kami berada dalam posisi yang sama," demikian kata Prabowo menanggapi posisi kami sekarang. Ya, saya dan Prabowo sekarang berada dalam perahu yang sama: Gerindra. Kami berdua sepakat bahwa kami harus mempertahankan sistem demokrasi. Tapi kami punya tanggung jawab bersama: sistem demokrasi harus mendatangkan kesejahteraan untuk rakyat.

WAYAN AGUS

Topik terhangat:

Sultan Mantu Misteri Bunda Putri Gatot Tersangka Suap Akil Mochtar Dinasti Banten

Berita terpopuler

Vokalis Saint Loco Disiram Air Keras di Wajahnya

Ini Agenda Aksi FPI Menolak Lurah Susan

FPI Akan Demo Jokowi Soal Lurah Susan

Tanah Ahli Waris Adam Malik Dijual Rp 350 Miliar

Kronologi Penyiraman Air Keras Barry Saint Loco


http://id.berita.yahoo.com/taktik-pius-mendekati-prabowo-subianto-061736270.html
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger