Pondasi Lemah, Jalur Pantura Jadi Proyek Abadi

TEMPO.CO , Tegal - Tiap tahun pemerintah mengeluarkan anggaran lebih dari Rp 1 triliun untuk perbaikan jalan di jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa. Menurut Kepala Bidang Pengendalian Operasi dan Keselamatan Jalan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Tengah, Agus Sasmito, jalur pantura selamanya jadi proyek abadi jika tidak dilakukan perombakan total dari pondasinya.

"Jalur pantura itu Jalan Daendels, peninggalan Belanda. Terakhir dibangun tahun 70-an," kata Agus kepada Tempo di sela Press Tour Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan di Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan (Poltran), Kota Tegal, Jumat, 25 Oktober 2013. Dari pembangunan terakhir itu, muatan sumbu terberat (MST) atau daya dukung jalan jalur Pantura hanya lima ton.

Agus mengatakan, sebagai jalan nasional kelas I, jalur Pantura didesain dengan MST 10 ton. Namun yang terjadi saat ini, pembangunan jalur Pantura hanya dilakukan dengan penambalan aspal secara terus menerus. Ia mengibaratkan jalur Pantura kini layaknya rumah perumnas yang ambrol karena ditambah bebannya dengan ditingkat menjadi lantai empat.

Bahkan, Agus menambahkan, ada anekdot yang menyatakan rusaknya jalur Pantura karena sepeda motor, bukan kendaraan berat. Sebab, jalan tol jarang rusak karena sepeda motor dilarang melintas. "Itu sindiran saja. Jalan tol tidak rusak karena MST-nya memang 10 ton," ujar Agus.

Mengutip hasil penelitian pakar pengamat jalan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Agus Taufiq, Agus menerangkan ada tiga faktor penyebab rusaknya jalan di seluruh Indonesia. Pertama, 40 persen akibat konstruksi jalan yang tidak sesuai. Kedua, 40 persen akibat buruknya drainase. Ketiga, 12 persen akibat kelebihan beban muatan.

"Tapi merombak pondasi jalur Pantura itu sangat mahal. Apalagi panjang jalannya 1.000 kilometer," kata Agus. Ihwal kerusakan jalur Pantura akibat kelebihan muatan kendaraan berat, Agus mengakui 16 jembatan timbang di Jateng masih lemah. Sebab, pelanggar muatan di jembatan timbang hanya ditilang atau didenda, tanpa ada sanksi tegas berupa penurunan muatan yang melebihi batas.

Terus rusaknya jalur Pantura menyumbang tingginya angka kecelakaan dan korban tewas di jalan. Data dari Dishubkominfo Jateng, tiap hari ada delapan orang tewas akibat kecelakaan lalu lintas. Saat musim mudik Lebaran, Agustus lalu, angka kecelakaan lalu lintas di Jateng yang paling tinggi. Sejak H-6 sampai H+2, ada 61 kasus dengan 24 korban tewas, 36 luka berat, dan 113 luka ringan.

Menurut dosen peneliti Poltran, Muhammad Harli, tingginya kecelakaan lalu lintas di Indonesia karena infrastruktur jalan yang jauh dari kata layak. "Tapi tiap ada kecelakaan, pasti dikatakan penyebabnya human error, misalnya sopir mengantuk dan lain-lain," ujar Harli. Padahal, menurut Harli, sopir di Indonesia lebih hebat daripada sopir di negara asing yang jauh lebih maju.

Harli mengatakan, tiap setengah jam sopir di Indonesia dikejutkan oleh hal-hal yang tidak terduga. Mulai dari jalan berlubang, aspal bergelombang, hingga banyaknya persimpangan di jalan arteri. "Di negara maju jarang terjadi kecelakaan karena pemerintahnya sadar akan keselamatan transportasi jalan. Jalur untuk truk, mobil pribadi, angkutan umum, hingga sepeda motor dipisahkan," ujarnya.

DINDA LEO LISTY


http://id.berita.yahoo.com/pondasi-lemah-jalur-pantura-jadi-proyek-abadi-230022660.html
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger