AS perlakukan sekutu bagai seteru

MERDEKA.COM. Banyak negara termasuk Indonesia dan sekutu AS di Eropa seperti Jerman, Prancis dan Spanyol sedang marah besar kepada AS menyangkut skandal mata-mata dengan penyadapan data dan sambungan telpon bahkan yang dimiliki oleh para kepala pemerintahan sobat Barack Obama sendiri oleh Badan Keamanan Nasional AS (NSA).

Majalah berpengaruh di Jerman, Der Spiegel edisi akhir Oktober berdasarkan data dari pembocor Edward Snowden, menguraikan adanya Special Collection Service (SCS) yang beroperasi antara lain di Berlin dan Frankfurt. SCS adalah satuan intelijen elit yang dijalankan bersama antara NSA dan CIA.

Agen SCS aktif di 80 lokasi di seluruh dunia termasuk di Jakarta, dan 19 di antaranya di Eropa Barat, sekutu AS, serta menyamar sebagai diplomat AS sehingga mempunyai kekebalan diplomatik. SCS inilah yang "nguping" dan mengkoleksi data intelijen dari siapa saja termasuk Kanselir Jerman, Angela Merkel.

Media di Eropa menggambarkan Angela Merkel sebagai "kaget dan sakit hati," sedangkan Presiden Perancis menyatakan "Yang dipertaruhkan adalah hubungan dengan AS. Hubungan itu tak akan berubah, tapi kepercayaan (trust) harus dikembalikan dan diperkuat."

Minggu lalu Merkel menelepon Obama dan menyatakan bahwa mematai-matai sobat sendiri sama sekali tak dapat diterimanya. Ia juga menegaskan bahwa antar teman dan sekutu harus ada kepercayaan, dan akibat skandal itu kepercayaan itu telah terguncang. Kemarahan Merkel diterjemahkan lebih lanjut dengan pemanggilan Dubes AS di Berlin oleh Menlu Jerman, demikian juga dengan Dubes AS di Madrid. Sebuah kejadian diplomatik langka antara AS dengan sekutunya.

Tak hanya dengan sekutunya di Eropa, skandal terkait NSA ini telah memperumit hubungan AS dengan Rusia karena Rusia memberikan suaka kepada Edward Snowden, pembocor rahasia NSA. Presiden Brasil, Dilma Rousseff juga telah membatalkan kunjungan kenegaraan ke AS sebagai protes atas dugaan penyadapan juga.

Apa saja dampak yang bisa timbul dari kekisruhan itu? Pertama, yang pasti adalah terganggunya citra AS sebagai mitra yang dapat dipercaya oleh Eropa. Dengan terungkapnya kasus ini, masyarakat Eropa makin meyakini adanya "sisi gelap" politik luar negeri AS yang dinilai mengabaikan rasa hormat dan saling percaya dalam hubungan kedua pihak. Dalam istilah Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Tohari, AS bagai pagar makan tanaman.(merdeka.com, 31/10).

Kedua adalah membesarnya tekanan politik dalam negeri bagi para pemimpin Uni Eropa untuk dapat bersikap tegas kepada AS. Sebagai contoh, Angela Merkel yang lagi menegosiasikan pembentukan pemerintahan koalisi dengan SPD (Social Democratic Party) dituntut oleh pimpinan SPD untuk mewujudkan perlindungan yang efektif tak hanya atas privasi Kanselir tapi juga 82 juta warga Jerman lainnya.

Ketiga, muncul dampak negatif bagi AS di bidang ekonomi. Batalnya kunjungan Presiden Brasil, Dilma Rousseff karena merasa teleponnya disadap oleh AS telah mengakibatkan batalnya penjualan persenjataan senilai USD 4 miliar. Dalam rangka perjanjian perdagangan bebas AS-Uni Eropa, Parlemen Eropa juga telah merekomendasikan penundaan perjanjian penggunaan bersama data bank antara AS dan Uni Eropa sebagai balasan atas tindakan mata-mata AS.

Keempat, bagi AS terbukanya penyadapan ini telah menimbulkan tantangan baru dalam mencari keseimbangan yang pas antara isu keamanan dan penggunaan kemampuan intelijen mereka dengan pemeliharaan hubungan diplomatik, khususnya dengan para sekutunya. Terkait dengan ini, Presiden Obama dikabarkan telah meminta adanya peninjauan (review) atas aktivitas pengumpulan data intelijen di negara-negara sahabat.

Betapapun marahnya sekutu AS, pemimpin Eropa dapat diduga tak akan mengambil tindakan drastis terhadap AS. Koran konservatif Swiss, Neue Zurcher Zeitung edisi 25/10 bahkan dalam editorialnya menulis: "Emosi sesaat adalah satu hal, kepentingan jangka panjang adalah hal lain. Menunda perjanjian perdagangan bebas dengan AS akan menjadi tindakan konyol."

Para pemimpin Eropa sangat paham bahwa mereka masih amat memerlukan dan tergantung pada AS dalam banyak hal termasuk layanan intelijen dan perlindungan militer AS. Sebagai contoh, tanpa drone dan satelit AS, invasi Prancis ke Mali tak akan berjalan mulus.

Apakah karena kedigdayaan AS dengan kehebatan perangkat komputernya yang tak tertandingi dan software mata-matanya yang super canggih kemudian AS dapat menyepelekan hubungan diplomasi yang baik dengan sekutunya? Tampaknya itulah yang terjadi. Demi kepentingannya AS telah memperlakukan sekutu bagai seteru.

Baca juga:

Kebat kliwat serangan Drone AS

Tawar menawar nuklir Iran

US Shutdown, ribut yang membuat kalut

Topik pilihan:

Google | premier league | Jokowi ahok | Isu Kudeta Prabowo | Demo Buruh

Sumber: Merdeka.com
http://id.berita.yahoo.com/perlakukan-sekutu-bagai-seteru-001900914.html
jika diwebsite ini anda menemukan artikel dengan informasi dan konten yang salah, tidak akurat, bersifat menyesatkan, bersifat memfitnah, bersifat asusila, mengandung pornografi, bersifat diskriminasi atau rasis mohon untuk berkenan menghubungi kami di sini agar segera kami hapus.
◄ Newer Post Older Post ►
 

© KAWUNGANTEN.COM Powered by Blogger